Menjaga Kesehatan Reproduksi Melalui Seks Education Sejak Remaja

Di Indonesia sendiri pengenalan Seks Education bagi Remaja masih terbilang tabu. Karna di Indonesia Sendiri usia remaja bukanlah hal yang patut di bicarakan mengenai hal seks. Tapi hal ini seharusnya menjadi perhatian bagi para orang tua serta para pakar pendidik lainnya untuk bisa memberikan sedikit informasi tentang seks education.

Mengenai hal ini banyak remaja yang terjerat seks bebas di dalam pergaulannya bersama dengan lawan jenis. terlebih dari hal itu pun adal hal yang perlu juga di ketahui oleh remaja kita aapakah dampak negatif dari seks bebas yang dilakukan. Tak luput juga pemberitahuan mengenai kesehatan reproduksi pasca masa pubertas. Banyak diantaranya belum tahu cara merawat kesehatan reproduksi setelah masa pubertas.

Adapaun cara untuk Menjaga kesehatan reproduksi adalah hal yang sangat penting, terutama untuk remaja. karena, masa remaja merupakan waktu yang terbaik untuk membangun kebiasaan baik menjaga kebersihan, yang bisa menjadi aset dalam jangka yang cukup panjang.

Menurut Badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), remaja adalah orang yang memiliki usia 12 hingga 24 tahun. Masa remaja merupakan suatu masa peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Maknanya, proses pengenalan dan pengetahuan kesehatan reproduksi sebenarnya sudah dimulai saat masa ini. Secara sederhana, reproduksi yang ialah berasal dari kata “re” yang berarti kembali dan “produksi” yang artinya membuat serta menghasilkan.

Reproduksi bisa diartikan juga sebagai proses kehidupan seorang manusia dalam menghasilkan kembali keturunan. Karena definisi yang sudah terlalu umum tersebut, seringnya reproduksi hanya dianggap sebagai sebatas masalah seksual atau soal hubungan intim. Tapi kenyataanya, masih banyak orang tua yang merasa tidak nyaman untuk membicarakan masalah tersebut kepada remaja. Padahal, menurut kesehatan reproduksi, terutama yang di alami pada remaja merupakan kondisi sehat yang meliputi sistem, fungsi, dan proses reproduksi.

Kurangnya informasi atau pembelajaran untuk edukasi terhadap hal yang berkaitan dengan reproduksi nyatanya bisa memancing terjadinya hal-hal yang tak diinginkan. Salah satu hal yang paling sering terjadi karena kurangnya sosialiasi dan edukasi adalah penyakit seksual menular, kehamilan pada usia yang muda, hingga melakukan aborsi yang berakibat pada hilangnya nyawa remaja.

Nyatanya peran orangtua merupakan salah satu hal yang paling penting dalam edukasi seksual pada remaja. Apalagi pada saat ini masih belum banyak orang yang peduli terhadap risiko-risiko yang dapat menyerang remaja “salah pergaulan” tersebut. Mulai dari beberapa ancaman pada penyakit reproduksi seperti HIV/AIDS, angka kematian seorang ibu yang meningkat karena melahirkan di usia muda, hingga kematian seorang remaja perempuan karena nekat mengambil tindakan aborsi.

Mengapa Pengetahuan mengenai Kesehatan Reproduksi pada Remaja Sangat Penting?

Pada dasarnya, seorang remaja perlu memiliki pengetahuan yang banyak seputar kesehatan reproduksi. Tak hanya untuk menjaga kesehatan serta fungsi organ tersebut, informasi yang benar terhadap pembahasan ini juga bisa menghindari untuk para remaja melakukan hal-hal yang tidak diinginkan.

Mempunyai sebuah pengetahuan yang tepat terhadap proses reproduksi, serta bagaimana cara menjaga kesehatannya, diharapkan mampu membuat semua remaja lebih bertanggung jawab. Terutama mengenai hal yang berkaitan dengan proses reproduksi, dan dapat berpikir ulang sebelum melakukan hal yang dapat merugikan.

Pengetahuan seputar masalah reproduksi tidak hanya diwajibkan untuk remaja putri saja. karna, anak laki-laki pun juga harus mengetahui serta mengerti bagaimana cara hidup dengan reproduksi yang sehat. Pergaulan yang salah juga pada akhirnya bisa memberi dampak yang merugikan pada remaja laki-laki pula. Lantas pengetahuan dasar apa saja yang perlu diketahui oleh remaja?

  • Pengenalan yang mengenai sistem, proses, serta fungsi alat reproduksi. Usahakanlah untuk dapat menyampaikan informasi sesuai dengan usia serta kesiapan anak. Tapi sebaiknya hindari pemakaian pada istila-istilah tertentu yang malah bisa mengaburkan makna dan membuat anak tidak mengenal dengan pasti masalah dari reproduksi.
  • Risiko pada penyakit. Aspek ini juga seharusnya sudah mulai dikenalkan dan disampaikan pada remaja yang sudah mulai beranjak dewasa. Dengan remaja bisa mengetahui risiko yang mungkin terjadi, remaja tentu akan lebih berhati-hati dan lebih menjaga kesehatan pada reproduksi.
  • Kekerasan seksual serta bagaimana cara meghindarinya. Remaja perlu diberitahukan dengan hak-hak reproduksi yang ia miliki. Selain itu, diperlukan juga pengetahuan tentang bagaimana kekerasana seksual yang mungkin terjadi, apa saja jenisnya, dan bagaimana cara untuk bisa menghindarinya dari remaja.

sebenarnya dari sex education ini memiliki pembahasan yang komplek. Meliputi pada masalah psikologi, sosio-kultural, agama dan kesehatan. Maka hal yang mengenai seks education dianggap sangat perlu untuk segera bisa merumuskan kurikulum sex education sebagai sarana untuk pencerahan bagi anak-anak maupun remaja, agar tidak tersesat lagi akibat menjadi korban yang buta akan seks. Apabila tak berbenah dari sekarang ini, dalam sepuluh tahun yang akan datang kemungkinan besar kasus seperti ini pelakunya adalah bukan lagi serendah anak SMP, tapi bisa anak-anak yang masih SD juga sudah pada belajar serta ingin menjajal.